ja_mageia

    • Narrow screen resolution
    • Wide screen resolution
    • Decrease font size
    • Default font size
    • Increase font size
    Home Aventures Dieng, Telaga Warna
    Dieng, Telaga Warna PDF Print E-mail
    User Rating: / 4
    PoorBest 
    Telaga Warna.[English]



    Dieng Plateau, located in the rural former mountain Dieng caldera, can not be denied is one tourist attraction in Wonosobo regency and also Banjarnegara district. Dieng Plateau is not far from the town of Wonosobo, about 20 miles ....

    To be able to get there, in the town of Wonosobo itself there are many public transport with the aim of Wonosobo-Dieng which operates from 6 am to 6 pm. Noteworthy is the road that connects Wonosobo-Dieng decorated by the cliff (on the way to Dieng) and gaps (as opposed to Wonosobo). For those of you who took a private car please be careful, especially with the fog that can arise at any time.

    When entering the Dieng Plateau, visitors are charged Rp 2,000 per person. If the weather is good, as long as your eyes travel will be entertained by a group of green hills filled with unique commodity that is a pitcher Dieng, aka Potato Dieng. Entering the main gate of the Dieng Plateau directly you will be greeted with the cool mountain air and the smell of sulfur. You do not need to be confused for a tour in Dieng. Because the village is almost in every corner there is a mosque has many unique attractions and exciting because spicy Javanese culture. One of the attractions we visited on vacation this time (25/12/2008) is Telaga Warna.

    Telaga Warna Misty.
    Telaga Warna, as the name is a pond with green water color because they contain sulfur biruan. So do not be surprised if the lake water may change color. If West Java have the White Crater, the Central Java has Telaga Warna. Both are almost similar, the difference is often plagued Telaga Warna mist, like the visit that time. As a result I can not fully expose the beauty of Telaga Warna. Ah, yes well maybe I'm out of luck, but this is the first time I photographed in the middle of thick fog. To be able to enjoy the beauty of Telaga Warna, visitors are charged Rp 3,000 per person, special holiday season Rp 6000.



    Sacred Cave
    If the fog does not visit Telaga Warna thinning, I'm not going to realize that the lake is very wide, maybe even more widespread than the White crater because here there are two lake that are separated by a hill. Bukit save the program object that is not less interesting caves where meditation. Total there are three caves, each of which has a name, there Semar Cave Hermitage Mandalasari Jati Sampurna Begawan (very long name), Cave of the Well Kumalasari Grandmother, and Rishi Cave Kendaliseto Jaran. The Semar Cave and Cave of the Well fenced entrance. The caves are actually a niche in a rock the same, only the position just different. In addition there are unisex Batu Tulis Purbo Waseso Grandmother. It seems these places are where people meditate past. Telaga Warna atmosphere with frequent fog, it was as though the place has a mystical aura that gripped (gak!).

    Children Bajang
    From the literature on the internet there is no mention of the history of these places. But one is certain that these places are still used in the administration of certain trust activities, especially the hair Ruwatan Bajang Child. Children Bajang identical with the matted hair is a classic myth Banjarnegara population, especially Dieng, who believe that the child is not unusual for a child's favorite supernatural spirits spirits Dieng Plateau, the authorities entrusted the South Sea, Nyai Roro Kidul.

    www.oassis.biz



    Telaga Warna.[Bahasa Indonesia]



    Dataran Tinggi Dieng, pedesaan yang terletak di bekas kaldera gunung Dieng, tidak bisa dipungkiri merupakan salah satu obyek pariwisata di Kabupaten Wonosobo dan sekaligus Kabupaten Banjarnegara. Dataran Tinggi Dieng tidak jauh dari kota Wonosobo, sekitar 20 kilometer saja....

    Untuk bisa menuju kesana, di kota Wonosobo sendiri banyak terdapat angkutan umum dengan tujuan Wonosobo-Dieng yang beroperasi dari jam 6 pagi hingga 6 sore. Yang perlu diperhatikan adalah jalan yang menghubungkan Wonosobo-Dieng dihiasi oleh tebing (saat menuju Dieng) dan jurang (saat bertolak ke Wonosobo). Bagi anda yang membawa kendaraan pribadi harap berhati-hati, terutama dengan kabut yang bisa muncul sewaktu-waktu.

    Saat memasuki Dataran Tinggi Dieng, pengunjung dikenakan biaya Rp 2.000 per orang. Kalau cuaca sedang bagus, selama perjalanan mata anda akan dihibur oleh gugusan bukit hijau yang dipenuhi dengan komoditas khas Dieng yaitu KenDi, alias Kentang Dieng. Memasuki gerbang utama Dataran Tinggi Dieng anda akan langsung disapa dengan hawa pegunungan yang sejuk dan juga bau belerang. Anda tidak perlu bingung untuk berwisata di Dieng. Karena di desa yang hampir di setiap sudutnya terdapat masjid ini memiliki banyak obyek wisata yang unik dan menarik karena berbumbu budaya Jawa. Salah satu obyek wisata yang kami kunjungi pada liburan kali ini (25/12/2008) adalah Telaga Warna.

    Telaga Warna Berkabut.
    Telaga Warna, sesuai namanya adalah telaga dengan air berwarna kehijau-biruan karena mengandung belerang. Sehingga jangan heran kalau air telaga dapat berubah warna. Kalau Jawa Barat punya Kawah Putih, maka Jawa Tengah punya Telaga Warna. Keduanya nyaris serupa, bedanya Telaga Warna sering dihinggapi kabut, seperti pada kunjunganku kali itu. Alhasil aku tidak bisa sepenuhnya mengekspos keindahan Telaga Warna. Ah, ya sudahlah mungkin aku kurang beruntung, tapi ini baru pertama kalinya aku memotret di tengah tebalnya kabut. Untuk bisa menikmati keindahan Telaga Warna, pengunjung dikenakan biaya Rp 3.000 per orang, khusus musim liburan Rp 6.000.



    Gua Keramat
    Kalau kabut di Telaga Warna tidak kunjung menipis, aku tidak akan menyadari bahwa Telaga tersebut sangat luas, bahkan mungkin lebih luas dari Kawah Putih karena disini ada dua buah telaga yang terpisahkan oleh sebuah bukit. Bukit inipun menyimpan obyek yang tidak kalah menarik yaitu gua-gua tempat meditasi. Total terdapat tiga gua yang masing-masing memiliki nama, ada Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati (panjang amat namanya), Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto. Adapun Gua Semar dan Gua Sumur dipagari pintu masuknya. Gua-gua ini sebenarnya merupakan ceruk pada suatu batu karang yang sama, hanya posisinya saja yang berbeda-beda. Selain itu adapula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso. Sepertinya tempat-tempat ini merupakan tempat meditasi orang-orang masa lampau. Dengan suasana Telaga Warna yang sering berkabut, memang tempat ini seakan memiliki aura mistis yang mencekam (halah!).

    Anak Bajang
    Dari literatur yang terdapat di internet memang tidak ada yang menyebutkan sejarah dari tempat-tempat ini. Namun satu yang pasti bahwa tempat-tempat tersebut masih digunakan dalam penyelenggaraan kegiatan kepercayaan tertentu, khususnya ruwatan rambut Anak Bajang. Anak Bajang yang identik dengan rambutnya yang gimbal merupakan mitos klasik penduduk Banjarnegara, khususnya Dieng, yang percaya bahwa anak tersebut bukan anak biasa karena merupakan kesayangan roh-roh gaib penunggu Dataran Tinggi Dieng, yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul.

    www.oassis.biz
     

    Add comment

    Para Pengunjung yang berbahagia, gunakan fasilitas ini dengan bijak. Komentar-komentar yang tidak berkenan akan tidak di tampilkan dan netter ybs kan ter blok pada situs ini.
    ---------------------------
    The visitors, use this facility sensibly. The comments are not acceptable will not display and it was relevant netter block on this site.


    English French German Hindi Indonesian Italian Norwegian Portuguese Russian Spanish

    Member Login



    JComments Latest

    • Slmt mlm,stelah di usg sy dinyatakan ada batu empe...
    • thanks :lol:
    • saya punya honda new blade.. kenapa sekarng tarika...
    • :lol:
    • terimakasih infonya mas bro, ngomong2 anda pake ho...
    Banner

    Banner

    Menu Today

    Archive Oassis

    Who is Online

    We have 8 guests online